The mind.
It keeps blaming.
Think.
And overthink.
Am i the only character on my mind?
Whose greatly act like a victims.
Or is it everybody play chapter of insanity.
They are all insane.
The mind.
It keeps saying.
And overthink.
We all are insane.
Tampilkan postingan dengan label ruang sumpek penuh cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ruang sumpek penuh cerita. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 November 2017
Overthink
Label:
ruang sumpek penuh cerita
Jumat, 15 Januari 2016
durhaka
Jakarta, 20 April 2015
9:42 PM
Mereka akan bilang, Aku si anak durhaka.
Karena buat hati ibu berduka.
Tapi apa mereka tau, hati ini lebih dulu dibuat luka.
Begitu sedih dan kecewa.
Tapi durhaka tetap durhaka.
Karena seorang ibu begitu mulia.
Karena tiada satu hal pun mampu buat Ia menjadi salah.
Meski hati ini juga lelah.
Maka kelak sebut saja aku ini,
si anak durhaka, yang juga terluka.
9:42 PM
Mereka akan bilang, Aku si anak durhaka.
Karena buat hati ibu berduka.
Tapi apa mereka tau, hati ini lebih dulu dibuat luka.
Begitu sedih dan kecewa.
Karena seorang ibu begitu mulia.
Karena tiada satu hal pun mampu buat Ia menjadi salah.
Meski hati ini juga lelah.
si anak durhaka, yang juga terluka.
sendiri
Jakarta, 9 April 2015
11:33 AM
Seringkali dibuat bingung.
oleh tolak ukur bakti atau ego sendiri.
ibu sendiri.
dan aku, anaknya sendiri.
seringkali manusia terlupa,
menjadi begitu ingin kerahkan tenaga untuk yang terdekat, kerabat.
tapi penuh alasan kepada ibu, malas-malasan.
manusia itu, aku sendiri.
seringkali aku merasa sakit,
sekujur tubuh terasa ngilu,
gairah hilang seketika.
karena kepala ini kepenuhan, ingin pecah.
semua tertumpuk, tak bisa keluar.
tiada yang percaya, kerabatpun tiada.
aku, sendirian.
dan ibu hadir atas inginya sendiri.
11:33 AM
Seringkali dibuat bingung.
oleh tolak ukur bakti atau ego sendiri.
ibu sendiri.
dan aku, anaknya sendiri.
menjadi begitu ingin kerahkan tenaga untuk yang terdekat, kerabat.
tapi penuh alasan kepada ibu, malas-malasan.
manusia itu, aku sendiri.
sekujur tubuh terasa ngilu,
gairah hilang seketika.
karena kepala ini kepenuhan, ingin pecah.
semua tertumpuk, tak bisa keluar.
tiada yang percaya, kerabatpun tiada.
aku, sendirian.
dan ibu hadir atas inginya sendiri.
lost
Jakarta, 16 Mei 2015
6:08 PM
Bertanya dan bertanya,
Seolah ilang hingatan.
Dimana aku?
Dimana seharusnya aku berada?
Seperti seekor hewan yang kehilangan rumpun kerabatnya,
Merasa sendiri, dan salah tempat.
Tempatku bukan tempatku.
Tapi pun aku tak tau dimana tempatnya.
6:08 PM
Bertanya dan bertanya,
Seolah ilang hingatan.
Dimana aku?
Dimana seharusnya aku berada?
Seperti seekor hewan yang kehilangan rumpun kerabatnya,
Merasa sendiri, dan salah tempat.
Tapi pun aku tak tau dimana tempatnya.
stage of life
Jakarta, 23 September 2015
11:26 PM
11:26 PM
seringkali kini aku berfikir tentang hal ini,
bahwa aku kini berada disini
berdiri pada pijakanku sekarang.
pada level ini.
atas apa yang kualami, atas apa yang terjadi.
hal-hal tentang bagaimana caraku bertutur,
pola komunikasi dengan manusia, dengan sesama.
bagaimana aku memandang Tuhan ku sebagai solusi. sebagai obat penenang,
jatuh bangun dan tanggung jawab besar yang kuemban sekarang,
hingga sampai bagaimana aku berfikir dan menindaklanjuti hal ini.
aku tidak akan bercerita tentang apakah aku suka atau tidak,
tetapi justru tentang rasa dari "permainan" ini.
dari dulu aku sebut hidup sebagai suatu permainan dalam video game.
ada level, stage dan tingkat kerumitan yang harus kau lalui untuk bisa naik ke tahap selanjutnya.
dan satu hal yang kupercaya, setiap player pasti akan mampu naik ke satu tahap yang sulit jika ia mampu.
siap ke stage selanjutnya?
superman-ku
Ternyata,
Superman itu tidak ada.
Ia tidak pernah ada.
Superman itu tidak ada.
Ia tidak pernah ada.
Sosok itu hanyalah karangan yg kubuat agar seolah aku perkasa dan tidak terkalahkan.
Kupikir kemudian ia menjadi nyata, melekat dalam diriku.
Rupanya tidak.
Kupikir kemudian ia menjadi nyata, melekat dalam diriku.
Rupanya tidak.
Supermanku itu begitu saja tumbang,
Tanpa tenaga, menyerah tiada daya.
seketika saat dihadapkan pada krypton nyata, yaitu selembar resep obat yang harus ia tebus dalam pertemuannya singkatnya dengan sang dokter malam itu.
Tanpa tenaga, menyerah tiada daya.
seketika saat dihadapkan pada krypton nyata, yaitu selembar resep obat yang harus ia tebus dalam pertemuannya singkatnya dengan sang dokter malam itu.
Sabtu, 16 Mei 2015
Sadarkan Waktu
Tersadar,
Jam yang terus berputar tidaklah sekedar berputar.
Setiap detaknya adalah tanya dan peringatan,
Tanya dimana kamu berpijak sekarang?
Sudahkah ada pada tempatmu?
Maumu?
Pada rumpun sesamamu?
Duniamu?
Mimpimu?
Dan ingatkan Batas waktumu,
Sisa hidupmu,
Amalmu,
Baktimu,
Karyamu,
Dan jati dirimu.
Sudahkah cukup kamu menjadimu.
Tidak untuk mencekikmu,
Atau memaksamu berlari.
Karena Waktu hanyalah waktu
Yang pada satu masa nanti,
Tidak akan tak lagi berputar,
Denyutnya takan mampu berdetak.
Tuk tanya dan ingatkan kamu
Karena waktu bisa mati.
Sadarkah?
#Carita.16052015
Sabtu, 20 Desember 2014
Lana the Happiness Maker
Malam ini ada sebuah kisah sebelum tidur,
tentang Lana,
yang selalu bermimpi,
lalu ia jadikan mimpi itu sebuah cita-cita,
ia tanamkan dalam pemahaman sendiri,
untuk menjadi seorang HAPPINESS MAKER.
Dalam pikiran sederhana Lana,
konsep itu adalah membagi rata bahagia, untuk semua.
satu bahagia, semua harus bahagia. tiada lagi sedih dan murka.
Karena bagi Lana hanya ini caranya untuk bertahan hidup, untuk terus bernafas.
dengan melihat tawa, senyum dan air mata bahagia.
tapi Lana,
sayangnya terlalu naif,
karena melupakan realita.
dan pada realita itu, Bahagia harus dibagi,
Pada prioritas dan srata, Profil dan kedudukan.
Ada porsi disana. tidak bisa sama.
Ada hujatan, ada ekspektasi.
Ada benci dan dengki.
dan sayangnya Lana terlalu lama bermimpi.
bahkan merasa lebih hidup dalam dunia mayanya, akan bayangan indahnya, sebagai seorang Pencipta Bahagia.
dalam realita, ia hanyalah seorang pendamba. karena hatinya habis dicacimaki kekecewaan.
Lana menjadi lupa untuk menginjak tanah itu lagi. Atau mungkin memang tidak mau?
diruang sumpek penuh cerita, 1:16AM
Senin, 17 November 2014
Sobekan Kertas
malam itu,
aku kumpulkan satu persatu sobekan kertas yang tercerai-berai dilantai.
sambil kubaca dan pahami dalam-dalam isinya,
lalu kueratkan dengan selotip seadanya.
mencoba menemukan esensi untuk aku simpulkan,
untuk jadikan sebuah kisah yang harus dipahami.
aku kumpulkan satu persatu sobekan kertas yang tercerai-berai dilantai.
sambil kubaca dan pahami dalam-dalam isinya,
lalu kueratkan dengan selotip seadanya.
mencoba menemukan esensi untuk aku simpulkan,
untuk jadikan sebuah kisah yang harus dipahami.
Sabtu, 26 Juli 2014
Apa Mauku ?
Coba tanyakan
, “apa mauku?”
Pasti kemudian
aku hanya akan terdiam kaku, bahkan tiada getar pada bibirku.
Apa mauku?
Apa yang
aku mau?
“Aku mau
apa?” – tanyaku, malah bertanya pada diriku.
AKU MAU
APA?
Pertanyaan
pendek tiga kata yang ringan, tapi begitu berat untuk bisa kujawab.
Mengingat
masa kecil, begitu sering aku dendangkan lagu Doraemon :
“Aku ingin begini.. aku ingin
begitu..
ingin ini, ingin itu banyak sekali.’
Rasanya
Nobita begitu mudah mengutarakan jutaan keinginannya , begitu mudah ia
utarakan, ini dan itu. Dan semudah itu pula kemudian Doraemon kabulkan semua
keinginannya, meskipun dengan banyak konsekuensi dan akibat yang ada.
Jadi, AKU
MAU APA?
Aku masih
saja diam. Tidak tau apa yang aku mau.
Bagaimana
bisa seorang seperti aku utarakan apa mau ku.
Tapi,
mengapa tidak bisa?
Pernah aku
dengar kisah tentang “The Bucket List”
Dan
kemudian aku coba membuat punyaku, tapi tidak berhasil, dalam arti aku benar2
tidak tau.
Ujungnya
hanya sobekan kertas atau coretan kasar diatasnya, kesal karena kurasa tidak
tepat.
Tidak
benar-benar apa yang aku mau.
Oke, sekali
lagi, AKU MAU APA?
Coba akan
aku utarakan, karena rasanya terlalu lama hati ini menyimpan di dalam.
Ingin
rasanya bibirku meneriakan segalanya, ke segala arah.
Pada
dinding, pada udara, pada tanah, pada semua.
AKU MAU
TENANG.
Aku ingin
mati dalam damai,
Dimana pada
hari itu aku tau segala sesuatu pada tempatnya,
Semuanya
baik-baik saja, dan mereka tertawa
Bahagia.
Aku ingin
pada hari itu,
tidak ada
lagi wajah yang menggerutu karena kebingungan.
Mata yang
berkantung dan bengkak dipagi hari karena menahan pilu sepanjang malam.
Hati yang
menangis karena sepi
Atau tubuh
yang terluka dan memar karena sayatan benci.
Apa itu
yang aku mau?
Rabu, 14 Mei 2014
Anxiety
Help me out, just get me out of here
Is anybody outside help some stranger here
Pull me up, I'm gonna die in here
Can anybody out there want be my square
Is anybody there can watch me
Is anybody there can hear me
And I feel lost and I feel empty
Is anybody there can feel me
a letter from a daughter who misses her father so much
Daddy, why don't you protect me?
Someone's gonna hurt me, there's nothing I can do
Amnesia
Amnesia
bukan oleh benturan. tidak karena penyakit.
tapi karena diramu, olehmu.
jadi lupa tapi jadi merasa.
terlupa oleh bagaimana rupa dan isi kepalaku dulu, seakan kini aku bercermin pada wajah yang lain.
tapi jadi terasa rupa dan warna, masih asing tapi aku mulai terbiasa. kelamaan bahkan melemahkan.
dan detik ini, kamu justru benturkan aku.
seperti bayi yang terbangun dari tidur nyenyak dan kehilangan ibunya, aku tersesat.
kemudian aku tengok kebelakang dan mencari sisa rupa yang lama.
aku ingat, tapi puingnya sudah habis tak bersisa.
percuma aku cari, karena mungkin sudah kau sapu habis saat ramu aku.
bukan oleh benturan. tidak karena penyakit.
tapi karena diramu, olehmu.
jadi lupa tapi jadi merasa.
terlupa oleh bagaimana rupa dan isi kepalaku dulu, seakan kini aku bercermin pada wajah yang lain.
tapi jadi terasa rupa dan warna, masih asing tapi aku mulai terbiasa. kelamaan bahkan melemahkan.
dan detik ini, kamu justru benturkan aku.
seperti bayi yang terbangun dari tidur nyenyak dan kehilangan ibunya, aku tersesat.
kemudian aku tengok kebelakang dan mencari sisa rupa yang lama.
aku ingat, tapi puingnya sudah habis tak bersisa.
percuma aku cari, karena mungkin sudah kau sapu habis saat ramu aku.
Selasa, 21 Januari 2014
Dari Logika Kepada Hati
Dear Hati,
jika boleh aku sedikit berkisah tentangmu,
Malam itu kuhampiri kau,
mengapa kau begitu resah?
setiap kali aku lihat tumpukan kertas berisi daftar kesenangannya.
mengapa kau jadi begitu malu dan menjadi bersalah.
menyesali kesenangan yang kau sendiri lakukan.
aku berfikir keras, tidak mengerti.
oo..rupanya kata mu saat itu,
kau sedang menjadi hati yang angkuh,
yang terlupa akan tanggung jawab setelah kesenangan sesaat.
lantas kenapa kemudian kau malu dan resah?
ya tentu malu, karena kemudian aku menangkap basah seluruh kertas itu dan tidak
memarahimu, aku hanya berdehem dalam dalam dan berkata untuk tidak diulangi lagi.
tapi kau makin resah, karena tau setelah itu perbuatan mu menjadi beban untukku.
Rupanya,
katamu, hati belum mampu mendewasakan diri.
seringkali terlelap dalam kesenangan sesaat.
membabi buta dan pikiran pendek.
kau selalu begitu mudah lupa akan segala nasihat ku.
kata mu, kesombongan kadang terasa begitu nikmat.
meski kadang kau tau itu hanya akan memenjarakanku.
Hati, kau selalu datang padaku kemudian.
menangis tersedu dan meminta jalan keluar.
aku hanya menggeleng karena memang tidak tau harus berbuat apa-apa.
tapi tampaknya aku lelah.
karena beban ini terlalu berat aku pikul.
entah sampai kapan aku biarkan kau merajalela?
with love,
Logika
jika boleh aku sedikit berkisah tentangmu,
Malam itu kuhampiri kau,
mengapa kau begitu resah?
setiap kali aku lihat tumpukan kertas berisi daftar kesenangannya.
mengapa kau jadi begitu malu dan menjadi bersalah.
menyesali kesenangan yang kau sendiri lakukan.
aku berfikir keras, tidak mengerti.
oo..rupanya kata mu saat itu,
kau sedang menjadi hati yang angkuh,
yang terlupa akan tanggung jawab setelah kesenangan sesaat.
lantas kenapa kemudian kau malu dan resah?
ya tentu malu, karena kemudian aku menangkap basah seluruh kertas itu dan tidak
memarahimu, aku hanya berdehem dalam dalam dan berkata untuk tidak diulangi lagi.
tapi kau makin resah, karena tau setelah itu perbuatan mu menjadi beban untukku.
Rupanya,
katamu, hati belum mampu mendewasakan diri.
seringkali terlelap dalam kesenangan sesaat.
membabi buta dan pikiran pendek.
kau selalu begitu mudah lupa akan segala nasihat ku.
kata mu, kesombongan kadang terasa begitu nikmat.
meski kadang kau tau itu hanya akan memenjarakanku.
Hati, kau selalu datang padaku kemudian.
menangis tersedu dan meminta jalan keluar.
aku hanya menggeleng karena memang tidak tau harus berbuat apa-apa.
tapi tampaknya aku lelah.
karena beban ini terlalu berat aku pikul.
entah sampai kapan aku biarkan kau merajalela?
with love,
Logika
Label:
ruang sumpek penuh cerita
Senin, 13 Januari 2014
Jadikan Aku
Jadikan aku, ilalang.
agar tidak mudah asa ku pudar,
meski kau injak-injak dan ludahi.
Jadikan aku dandelion,
agar mudah kubuang rasa benci,
dan terbanglah bersama angin sore.
Jadikan aku batu,
agar kuat tekad ku untuk berlari,
dan keras niat ku untuk tidak berhenti.
Label:
ruang sumpek penuh cerita
Mati dalam hening
Tadi malam,
dalam keheningan, dia ada.
disana. menatapku.
berteriak tanpa suara. tangisi aku.
yang baginya sudah mati.
aku pun menjadi tuli.
atau memang hanya ada keheningan?
kucoba tuturkan sebuah cerita.
mencairkan kekakuan yang kami sama-sama rasakan.
tapi kini ia tulikan indranya. kemudian membalikan tubuhnya.
hendak pergi.
akupun merajuk.
memintanya tinggal lebih lama.
inginku dibelainya lagi.
tapi itu tadi, baginya aku sudah mati.
dan bagi mereka semua.
yang tertinggal hanyalah keheningan.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Jangan-jangan
Jangan ucap lelah, jika kamu masi mampu.
Jangan katakan sakit, jika memang bisa kau tahan.
Karena hanya akan menjadi semakin lelah dan sakit.
Mengapa lelah?
Seberat itukah beban yang kau pikul?
Sudahkah kau kerahkan seluruh ragamu?
Apakah sudah?
Benarkah sakit?
jika kau sendiri tau obatnya,
atau jika kau mampu mengurangi sendiri rasanya.
Sudah coba kau telan sakit itu?
Atau jangan-jangan kau hanya melebih-lebihkan ceritamu!
Jangan katakan sakit, jika memang bisa kau tahan.
Karena hanya akan menjadi semakin lelah dan sakit.
Mengapa lelah?
Seberat itukah beban yang kau pikul?
Sudahkah kau kerahkan seluruh ragamu?
Apakah sudah?
Benarkah sakit?
jika kau sendiri tau obatnya,
atau jika kau mampu mengurangi sendiri rasanya.
Sudah coba kau telan sakit itu?
Atau jangan-jangan kau hanya melebih-lebihkan ceritamu!
Sabtu, 09 November 2013
Manusia dan diri mereka
terhempas lagi,
mengapung tanpa tujuan,
hilang dan tidak dicari - alias - tanpa kawan.
pada akhirnya,
manusia itu untuk dirinya sendiri, kata mereka.
pun hari ini aku menangisi kisahmu tersedu-sedu,
tidak lah sampai akan kubawa ia tidur.
cukup sampai pertemuan kita.
karena aku dan kisahku.
manusia itu untuk dirinya sendiri, kataku.
maka darinya tegarkanlah jiwamu.
berpijaklah pada ragamu sendiri.
dan perlahan lepaskan peganganmu dari mereka.
dihempaskan lagi, pada akhirnya.
sudah kubilang..
bukan mengapung tanpa tujuan,
tetapi maksutku "tanpa kawan."
mengapung tanpa tujuan,
hilang dan tidak dicari - alias - tanpa kawan.
pada akhirnya,
manusia itu untuk dirinya sendiri, kata mereka.
pun hari ini aku menangisi kisahmu tersedu-sedu,
tidak lah sampai akan kubawa ia tidur.
cukup sampai pertemuan kita.
karena aku dan kisahku.
manusia itu untuk dirinya sendiri, kataku.
maka darinya tegarkanlah jiwamu.
berpijaklah pada ragamu sendiri.
dan perlahan lepaskan peganganmu dari mereka.
dihempaskan lagi, pada akhirnya.
sudah kubilang..
bukan mengapung tanpa tujuan,
tetapi maksutku "tanpa kawan."
Label:
ruang sumpek penuh cerita
Langganan:
Postingan (Atom)


