Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayah. Tampilkan semua postingan
Rabu, 14 Mei 2014
a letter from a daughter who misses her father so much
Daddy, why don't you protect me?
Someone's gonna hurt me, there's nothing I can do
Senin, 13 Januari 2014
Mati dalam hening
Tadi malam,
dalam keheningan, dia ada.
disana. menatapku.
berteriak tanpa suara. tangisi aku.
yang baginya sudah mati.
aku pun menjadi tuli.
atau memang hanya ada keheningan?
kucoba tuturkan sebuah cerita.
mencairkan kekakuan yang kami sama-sama rasakan.
tapi kini ia tulikan indranya. kemudian membalikan tubuhnya.
hendak pergi.
akupun merajuk.
memintanya tinggal lebih lama.
inginku dibelainya lagi.
tapi itu tadi, baginya aku sudah mati.
dan bagi mereka semua.
yang tertinggal hanyalah keheningan.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Senin, 29 Juli 2013
Aku tau kau tau aku tau
aku tau kau tau,
dan kaupun tau aku tau
bahwa kita saling tau,
merasa .. tanpa perlu meraba.
merindu.. tanpa perlu mengucap.
meski dibatasi oleh sebuah dinding tak kasat oleh mataku.
tapi benarkah kau tau?
karena kini aku tak tau apakah kaupun mau tau.
masih sama,
dibatasi oleh sebuah dinding tak kasat oleh mataku,
aku merasa.. kau merinduku
merindu aku yang dahulu.
#IMUACA
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Aipira
dari semua tanya dalam diri.
kudapatkan sebuah konklusi,
mengapa selalu nafas ini memburu,
mengapa terus kaki ini berlari.
mengapa mampu mata ini terjaga,
mengapa tangguh raga ini berdiri tegak.
dan mengapa enggan mulut ini berhenti meminta.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Minggu, 16 Desember 2012
Duhai Asa
Pada sebatang asa yang mengudara,
tersimpan berjuta doa.
ada harapan dan mimpi
untuk disampaikan kepada sang surya.
sedikit demi sedikit menjadi abu
dalam temaram api yang mulai redup
janganlah habis rasa percaya,
akan munculnya sinar baru
bersama dengan hembus angin
terselip aroma kehangatan
seolah membelai dan menyapa
bahwa surya tidaklah kemana.
terbanglah jauh duhai asa,
sampaikan pesan rasa rindu
ambilkan juga secarik maaf
untuk membuangjauh diriku
jangalah lelah duhai asa,
jangan berhenti hingga surya menyapa
katakan padanya aku tanpa daya,
melawan diriku yang lainnya.
sampaikan saja wahai asa,
bahwa aku merasa malu.
bahkan ribuan wajahku tidaklah mampu,
bertatap muka dengan surya-ku
dan pada sebatang asa yang mengudara,
kutitipkan sebuah harap dan mimpi
yang sedikit demi sedikit menjadi abu
menjadi redup dan tidak berwujud
sebelum sempat sang surya menyapa.
tersimpan berjuta doa.
ada harapan dan mimpi
untuk disampaikan kepada sang surya.
sedikit demi sedikit menjadi abu
dalam temaram api yang mulai redup
janganlah habis rasa percaya,
akan munculnya sinar baru
bersama dengan hembus angin
terselip aroma kehangatan
seolah membelai dan menyapa
bahwa surya tidaklah kemana.
terbanglah jauh duhai asa,
sampaikan pesan rasa rindu
ambilkan juga secarik maaf
untuk membuangjauh diriku
jangalah lelah duhai asa,
jangan berhenti hingga surya menyapa
katakan padanya aku tanpa daya,
melawan diriku yang lainnya.
sampaikan saja wahai asa,
bahwa aku merasa malu.
bahkan ribuan wajahku tidaklah mampu,
bertatap muka dengan surya-ku
dan pada sebatang asa yang mengudara,
kutitipkan sebuah harap dan mimpi
yang sedikit demi sedikit menjadi abu
menjadi redup dan tidak berwujud
sebelum sempat sang surya menyapa.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Minggu, 30 September 2012
r.u.d.e
rude
i am.
to you
to her
to him
to them
to us
to everyone
and to myself.
Label:
#selfnote,
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Minggu, 05 Agustus 2012
I'm Wondering
i'm wondering..
seperti apakah saya
bila semua masih ditempatnya, sekarang?
i'm wondering..
seperti apakah kami
bila semua masih ditempatnya, sekarang?
i'm wondering..
and still wondering.
masih jelas teringat
adegan dua tahun lalu.
nah,!
ternyata sudah masuk tahun kedua.
i'm wondering..
seperti apakah saya dan kami semua
dua tahun yang lalu?
-IMUACA-
seperti apakah saya
bila semua masih ditempatnya, sekarang?
i'm wondering..
seperti apakah kami
bila semua masih ditempatnya, sekarang?
i'm wondering..
and still wondering.
masih jelas teringat
adegan dua tahun lalu.
nah,!
ternyata sudah masuk tahun kedua.
i'm wondering..
seperti apakah saya dan kami semua
dua tahun yang lalu?
-IMUACA-
Label:
AIPIRA,
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Selasa, 25 Oktober 2011
Ayah
Malam ini,
diadakan lagi jamuan temu kangen.
antara kami.
pada berbatasan mimpi dan kenyataan.
dengan air mata sebagai hidangan utama.
tegur sapa dan peluk rindu.
dan akhiran yang disapu kabut.
#IMUACA
diadakan lagi jamuan temu kangen.
antara kami.
pada berbatasan mimpi dan kenyataan.
dengan air mata sebagai hidangan utama.
tegur sapa dan peluk rindu.
dan akhiran yang disapu kabut.
#IMUACA
Label:
AIPIRA,
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Jumat, 21 Oktober 2011
pada sebuah keteduhan

pada sebuah keteduhan
aku lipat rapat tubuhku.
mendekap hangat dalam peluknya.
dan bersembunyi…..
penyesalan.
dan aku bertanya pada ilalang..
kapankah waktuku pulang.
teringat masa bersamanya..
inginku menari
dan buatnya tertawa.
(ayah.. aku rindu)
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Senin, 25 Oktober 2010
Bunga tidur
I saw you.
that night.
sleeping there where you used to.
with a black shirt from toraja.
your favorite one.
and then u said so.
that everything will be okay.
and you are getting better.
and then i hug you.
very tight.
what are you tryin to say?
and do you know what am i tryin to say?
i miss you everyday.
till today.
that night.
sleeping there where you used to.
with a black shirt from toraja.
your favorite one.
and then u said so.
that everything will be okay.
and you are getting better.
and then i hug you.
very tight.
what are you tryin to say?
and do you know what am i tryin to say?
i miss you everyday.
till today.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Rabu, 13 Oktober 2010
Ayah

hai
kadang aku berfikir.
apakah sudah aku melupakanmu?
dan akankah aku melupamu?
ketika hujan datang
seketika aku teringat.
tanah basah 9 agustus lalu.
apakabarmu didalam sana.
seandainya bisa aku lanjutkan kisah si semut eno lerian,
"semut semut kecil. saya mau tanya.. apakah kamu didalam sana,
temani ayahku?
semut semut kecil. saya mau tanya . apakah ayah didalam sana
merasa sepi?"
apakah sudah aku melupamu?
sudah cukupkah doaku untukmu?
sewaktu kecil aku teringat
sinema sabtu siang sctv.
mereka membakar kertas dan baju untuk mereka yang telah tiada
agar disana yang meninggalkan tidak kedinginan/
bagaimana denganmu?
haruskah aku bakar diriku?
dan kursi itu
yang selalu menjadi "best spot" mu sampai malam
mulai dingin. karena tidak lagi diduduki
dan kesibukan mulai membuatku melupamu.
apakah aku melupamu?
tidak!
jangan menangis ayah.
aku tidak begitu.
IMUACA.
IMUACA.
IMUACA.
Selasa, 31 Agustus 2010
Surat Kaleng
Hai.
apakabar?
bagaimana keadaanmu disana?
Sekarang musim sedang hujan, dingikah?
adakah selembar selimut disana?
Tapi siangnya juga sangat menyengat.
Adakah tempat teduhmu?
Dan bila malam datang,
adakah sinaran bohlam untuk menerangimu?
Sepikah?
Siapakah kawan berceritamu?
IMU.ACA
IMU
IMU
IMU
IMU
ACA
ACA
ACA
empat kali empat sama dengan enam belas
dan aku tau kau takkan sempat membalas.
:'(
apakabar?
bagaimana keadaanmu disana?
Sekarang musim sedang hujan, dingikah?
adakah selembar selimut disana?
Tapi siangnya juga sangat menyengat.
Adakah tempat teduhmu?
Dan bila malam datang,
adakah sinaran bohlam untuk menerangimu?
Sepikah?
Siapakah kawan berceritamu?
IMU.ACA
IMU
IMU
IMU
IMU
ACA
ACA
ACA
empat kali empat sama dengan enam belas
dan aku tau kau takkan sempat membalas.
:'(
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Ayah
Didalam sebuah ruang gelap
aku terduduk tanpa popcorn ditangaku
menatap lurus kedepan
kesebuah layar tancap,
dari kain besar dengan tembakan proyektor.
Filmnya diputar.
bagaikan slideshow presentasi..
adegan demi adegan kupandangi.
tanpa ada durasi..
semua pelak kuingat dengan jelas.
detik demi detik adegan itu.
2 minggu berlalu.
dan aku masih saja duduk disana
ditempat yang sama.
memandangi layar kusam yang disoroti proyektor.
setiap tengah malam. semua adegan itu diputar kembali.
dan masih saja aku disini.
terduduk, menyesaki adegan itu.
terisak tanpa suara dan air mata.
aku kangen, Ayah.
aku terduduk tanpa popcorn ditangaku
menatap lurus kedepan
kesebuah layar tancap,
dari kain besar dengan tembakan proyektor.
Filmnya diputar.
bagaikan slideshow presentasi..
adegan demi adegan kupandangi.
tanpa ada durasi..
semua pelak kuingat dengan jelas.
detik demi detik adegan itu.
2 minggu berlalu.
dan aku masih saja duduk disana
ditempat yang sama.
memandangi layar kusam yang disoroti proyektor.
setiap tengah malam. semua adegan itu diputar kembali.
dan masih saja aku disini.
terduduk, menyesaki adegan itu.
terisak tanpa suara dan air mata.
aku kangen, Ayah.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Rabu, 18 Agustus 2010
Ayah
sosok 1 : "berikutnya.." (kemudian melihat catatan panjang ditanganNya dan sekilas melihat ke arah ayah dan berkata lagi ) ... "hemmm.. Agus Cipto Ajie."
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Dalam catatan Ku kamu meninggal dan sebuah acara keluarga. Sehabis solat dzuhur dan tengah meneguk segelas teh tarik sambil bersenda gurau."
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Dalam catatanKu pula kamu adalah seorang suami dan ayah dari 4 orang anak."
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Apakah kamu bahagia dengan keluargamu? apa sudah cukup bakti anakmu? apa sudah sakinah keluargamu? apakah mereka patuh terhadapmu? Apakah istri dan anakmu menyayangimu? dan apakah kamu sudah cukup puas dengan waktu yang telah KU berikan?"
Kemdian Ayah terdiam sejenak. pikirannya menyelam jauh ke beberapa masa yang lalu.
Ayah : " Hamba memang merasa asing dirumah hamba. Sudah lama hamba tidak tidur bersama istri hamba, anak-anak hamba acuh. Bahkan seringkali membangkang. Anak tertua hamba seringkali tidak mau mendengar nasihat hamba, seringkali geram. Anak kedua hamba terlalu sibuk dengan diri dan perkejaannya sampai larut malam. Dan penerus hamba nantinya, putra-putra hamba, acuh terhadap hamba, terlalu asik dengan dunia maya dan pergaulannya.
Seringkali hamba ditiadakan, oleh kesibukan mereka. Hamba hanya berkawan pada televisi hingga larut malam.. menanti mereka pulang. Seringkali mereka kesal, padahal hamba khawatir. Seringkali suara hamba tidak didengar, hamba ditiadakan. Dan dipandnag sebelah mata.
Hanya pada dinding hamba berkeluh kesah tentang pekerjaan hamba dan kepada layar televisi hamba menceritakan kejadian lucu dkantor hamba, dan lomba paduan suara yang hamba menangkan. Seringkali hamba larut dalam tangis hamba. dalam ibadah dan doa hamba meminta agar doa hamba diampuni, karena tidak mampu memimpin keluarga hamba agar sakinah"
Mata ayah pun berkaca, Ayah pun tertunduk menutupi sesak hatinya. Namun sesaat kemudian ayah tersenyum dan berkata:
Ayah : " Namun Hamba bahagia ya Tuanku, karena di bulan bulan terakhir waktuku, Aku merasakan kasih sayang yang luar biasa dasyat dari mereka. Istriku yang selalu menjaga ku dan mengingakan waktu minum obatku,,yang setiap malam menangis dan mendoakanku. Anak-anak gadisku yang sudah kerja dan mencari nafkah sendiri dan anak laki-lakiku yang menemaniku waktu nntn tvku. Aku merasakan kasih sayang mereka ya Tuanku. Terbayar sudah kesendirianku hanya dalam 3 bulan waktuku. Dan kini aku tersenyum lega melihat mereka dari atas sini Tuanku. Mereka tegar. Kulihat mereka makin akur dan erat. Nantinya mereka akan membuat ku bangga dari sini Tuanku. Anak-anak Gadisku akan menjaga Istri dan anak lelakiku. Mereka pantang menyerah demi ibu dan adik-adiknya. Dan Nantinya anak-anak lelakiku akan menjadi pemimpin dirumahku, imam untuk keluarga ku..
Mereka akan menghiasi rumah kami dengan salawat dan menaburi ku dengan doa, sehingga aku tidak lagi merasa sendiri. Aku puas Tuanku. Aku ikhlas. Dan ini memang sudah waktuku."
Sosok 1 : "Kalau begitu kamu boleh masuk"
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Dalam catatan Ku kamu meninggal dan sebuah acara keluarga. Sehabis solat dzuhur dan tengah meneguk segelas teh tarik sambil bersenda gurau."
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Dalam catatanKu pula kamu adalah seorang suami dan ayah dari 4 orang anak."
Ayah : "Hamba"
Sosok 1 : " Apakah kamu bahagia dengan keluargamu? apa sudah cukup bakti anakmu? apa sudah sakinah keluargamu? apakah mereka patuh terhadapmu? Apakah istri dan anakmu menyayangimu? dan apakah kamu sudah cukup puas dengan waktu yang telah KU berikan?"
Kemdian Ayah terdiam sejenak. pikirannya menyelam jauh ke beberapa masa yang lalu.
Ayah : " Hamba memang merasa asing dirumah hamba. Sudah lama hamba tidak tidur bersama istri hamba, anak-anak hamba acuh. Bahkan seringkali membangkang. Anak tertua hamba seringkali tidak mau mendengar nasihat hamba, seringkali geram. Anak kedua hamba terlalu sibuk dengan diri dan perkejaannya sampai larut malam. Dan penerus hamba nantinya, putra-putra hamba, acuh terhadap hamba, terlalu asik dengan dunia maya dan pergaulannya.
Seringkali hamba ditiadakan, oleh kesibukan mereka. Hamba hanya berkawan pada televisi hingga larut malam.. menanti mereka pulang. Seringkali mereka kesal, padahal hamba khawatir. Seringkali suara hamba tidak didengar, hamba ditiadakan. Dan dipandnag sebelah mata.
Hanya pada dinding hamba berkeluh kesah tentang pekerjaan hamba dan kepada layar televisi hamba menceritakan kejadian lucu dkantor hamba, dan lomba paduan suara yang hamba menangkan. Seringkali hamba larut dalam tangis hamba. dalam ibadah dan doa hamba meminta agar doa hamba diampuni, karena tidak mampu memimpin keluarga hamba agar sakinah"
Mata ayah pun berkaca, Ayah pun tertunduk menutupi sesak hatinya. Namun sesaat kemudian ayah tersenyum dan berkata:
Ayah : " Namun Hamba bahagia ya Tuanku, karena di bulan bulan terakhir waktuku, Aku merasakan kasih sayang yang luar biasa dasyat dari mereka. Istriku yang selalu menjaga ku dan mengingakan waktu minum obatku,,yang setiap malam menangis dan mendoakanku. Anak-anak gadisku yang sudah kerja dan mencari nafkah sendiri dan anak laki-lakiku yang menemaniku waktu nntn tvku. Aku merasakan kasih sayang mereka ya Tuanku. Terbayar sudah kesendirianku hanya dalam 3 bulan waktuku. Dan kini aku tersenyum lega melihat mereka dari atas sini Tuanku. Mereka tegar. Kulihat mereka makin akur dan erat. Nantinya mereka akan membuat ku bangga dari sini Tuanku. Anak-anak Gadisku akan menjaga Istri dan anak lelakiku. Mereka pantang menyerah demi ibu dan adik-adiknya. Dan Nantinya anak-anak lelakiku akan menjadi pemimpin dirumahku, imam untuk keluarga ku..
Mereka akan menghiasi rumah kami dengan salawat dan menaburi ku dengan doa, sehingga aku tidak lagi merasa sendiri. Aku puas Tuanku. Aku ikhlas. Dan ini memang sudah waktuku."
Sosok 1 : "Kalau begitu kamu boleh masuk"
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Rabu, 11 Agustus 2010
Ayah
Hujan terus. Basah
Ibu pertiwi menangis
Alam semesta berduka
fauna meratap dan meraung
Flora tidak lagi mekar.kelabu
Ini bukanlah kisah efek pemanasan global
Bukan jg kisah sedih di hari minggu.
mati.meregang tanpa nyawa
Melihat cahaya surya redup. Gelap
Selamanya.
Kini Semua menanti
Bahu membahu
Mencipta lagi sang surya.
Buatan sendiri.
Nyala redup nyala redup.
Tapi setidaknya cukup untuk menerangi jalan setapak.
8 agustus 2010. Sang surya tidak kembali
Ibu pertiwi menangis
Alam semesta berduka
fauna meratap dan meraung
Flora tidak lagi mekar.kelabu
Ini bukanlah kisah efek pemanasan global
Bukan jg kisah sedih di hari minggu.
mati.meregang tanpa nyawa
Melihat cahaya surya redup. Gelap
Selamanya.
Kini Semua menanti
Bahu membahu
Mencipta lagi sang surya.
Buatan sendiri.
Nyala redup nyala redup.
Tapi setidaknya cukup untuk menerangi jalan setapak.
8 agustus 2010. Sang surya tidak kembali
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Selasa, 10 Agustus 2010
ayah
selamat ulang tahun :)
semoga apa?
panjang umur?
bukan
semoga sehat selalu?
bukan
semoga apa?
:'(
semoga apa?
panjang umur?
bukan
semoga sehat selalu?
bukan
semoga apa?
:'(
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
ayah
aku dengar suara tv.
pukul satu malam.
selalu disana.
ditempatnya duduk.
menanti waktu tidurnya.
jari2 panjangnya berlompatan memencet remot
menanti semua pulang.
kini berhenti
dan kelamaan hilang.
aku sepi.
ayah
pukul satu malam.
selalu disana.
ditempatnya duduk.
menanti waktu tidurnya.
jari2 panjangnya berlompatan memencet remot
menanti semua pulang.
kini berhenti
dan kelamaan hilang.
aku sepi.
ayah
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
ayah
ayah..aku...
ayah. akuu....
ayah dengar dulu.. akuu
ayah tunggu... aku.
tapi yah.. aku..
sebenarnya aku..
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah.
:'(
:'(
:'(
ayah. akuu....
ayah dengar dulu.. akuu
ayah tunggu... aku.
tapi yah.. aku..
sebenarnya aku..
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah
ayah.
:'(
:'(
:'(
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Rabu, 04 Agustus 2010
rutinitas x
yak. musim liburan telah tiba.
anak-anak masuk sekolah setelah 3 bulan libur sememster
begitu pula dengan rutinitas x .
kembali di gelar di malam hari, saat semua sedang terlelap.
seperti hantu yang datang diam2 tanpa suara.
dari balik kaca bulat biru itu,
mungkin ada wajah menyeringai.
menikmati rutinitas x.
rutinitas x
anak-anak masuk sekolah setelah 3 bulan libur sememster
begitu pula dengan rutinitas x .
kembali di gelar di malam hari, saat semua sedang terlelap.
seperti hantu yang datang diam2 tanpa suara.
dari balik kaca bulat biru itu,
mungkin ada wajah menyeringai.
menikmati rutinitas x.
rutinitas x
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Rabu, 16 Juni 2010
Dear Lord!
Dear Lord..
please help me to see...
the miracle that you promise me, seem so far away
i'm not even ready.
please. to you i'm begging.
please help me to see...
the miracle that you promise me, seem so far away
i'm not even ready.
please. to you i'm begging.
Label:
Ayah,
ruang sumpek penuh cerita
Langganan:
Postingan (Atom)