Rabu, 06 Agustus 2014
kesukaan
Kesukaan adalah ketika bernyanyi setengah teriak diantara hingar bingar
kendaraan malam dan kau yang mengintip sambil tersenyum dibalik kaca :)
Sabtu, 26 Juli 2014
Magic
(From Coldplay BBC Concert - Ghost Stories)
"Call it magic. Call it true
Call it magic. When I'm with you."
"And I just got broken, Broken into two.
Still I call it magic. When I'm next to you "
"And if you were to ask me,
After all that we've been through,
Still believe in magic. Oh yes I do
Oh yes I do. Of course I d."
Call it magic. When I'm with you."
"And I just got broken, Broken into two.
Still I call it magic. When I'm next to you "
"And if you were to ask me,
After all that we've been through,
Still believe in magic. Oh yes I do
Oh yes I do. Of course I d."
Apa Mauku ?
Coba tanyakan
, “apa mauku?”
Pasti kemudian
aku hanya akan terdiam kaku, bahkan tiada getar pada bibirku.
Apa mauku?
Apa yang
aku mau?
“Aku mau
apa?” – tanyaku, malah bertanya pada diriku.
AKU MAU
APA?
Pertanyaan
pendek tiga kata yang ringan, tapi begitu berat untuk bisa kujawab.
Mengingat
masa kecil, begitu sering aku dendangkan lagu Doraemon :
“Aku ingin begini.. aku ingin
begitu..
ingin ini, ingin itu banyak sekali.’
Rasanya
Nobita begitu mudah mengutarakan jutaan keinginannya , begitu mudah ia
utarakan, ini dan itu. Dan semudah itu pula kemudian Doraemon kabulkan semua
keinginannya, meskipun dengan banyak konsekuensi dan akibat yang ada.
Jadi, AKU
MAU APA?
Aku masih
saja diam. Tidak tau apa yang aku mau.
Bagaimana
bisa seorang seperti aku utarakan apa mau ku.
Tapi,
mengapa tidak bisa?
Pernah aku
dengar kisah tentang “The Bucket List”
Dan
kemudian aku coba membuat punyaku, tapi tidak berhasil, dalam arti aku benar2
tidak tau.
Ujungnya
hanya sobekan kertas atau coretan kasar diatasnya, kesal karena kurasa tidak
tepat.
Tidak
benar-benar apa yang aku mau.
Oke, sekali
lagi, AKU MAU APA?
Coba akan
aku utarakan, karena rasanya terlalu lama hati ini menyimpan di dalam.
Ingin
rasanya bibirku meneriakan segalanya, ke segala arah.
Pada
dinding, pada udara, pada tanah, pada semua.
AKU MAU
TENANG.
Aku ingin
mati dalam damai,
Dimana pada
hari itu aku tau segala sesuatu pada tempatnya,
Semuanya
baik-baik saja, dan mereka tertawa
Bahagia.
Aku ingin
pada hari itu,
tidak ada
lagi wajah yang menggerutu karena kebingungan.
Mata yang
berkantung dan bengkak dipagi hari karena menahan pilu sepanjang malam.
Hati yang
menangis karena sepi
Atau tubuh
yang terluka dan memar karena sayatan benci.
Apa itu
yang aku mau?
Rabu, 14 Mei 2014
Anxiety
Help me out, just get me out of here
Is anybody outside help some stranger here
Pull me up, I'm gonna die in here
Can anybody out there want be my square
Is anybody there can watch me
Is anybody there can hear me
And I feel lost and I feel empty
Is anybody there can feel me
a letter from a daughter who misses her father so much
Daddy, why don't you protect me?
Someone's gonna hurt me, there's nothing I can do
Amnesia
Amnesia
bukan oleh benturan. tidak karena penyakit.
tapi karena diramu, olehmu.
jadi lupa tapi jadi merasa.
terlupa oleh bagaimana rupa dan isi kepalaku dulu, seakan kini aku bercermin pada wajah yang lain.
tapi jadi terasa rupa dan warna, masih asing tapi aku mulai terbiasa. kelamaan bahkan melemahkan.
dan detik ini, kamu justru benturkan aku.
seperti bayi yang terbangun dari tidur nyenyak dan kehilangan ibunya, aku tersesat.
kemudian aku tengok kebelakang dan mencari sisa rupa yang lama.
aku ingat, tapi puingnya sudah habis tak bersisa.
percuma aku cari, karena mungkin sudah kau sapu habis saat ramu aku.
bukan oleh benturan. tidak karena penyakit.
tapi karena diramu, olehmu.
jadi lupa tapi jadi merasa.
terlupa oleh bagaimana rupa dan isi kepalaku dulu, seakan kini aku bercermin pada wajah yang lain.
tapi jadi terasa rupa dan warna, masih asing tapi aku mulai terbiasa. kelamaan bahkan melemahkan.
dan detik ini, kamu justru benturkan aku.
seperti bayi yang terbangun dari tidur nyenyak dan kehilangan ibunya, aku tersesat.
kemudian aku tengok kebelakang dan mencari sisa rupa yang lama.
aku ingat, tapi puingnya sudah habis tak bersisa.
percuma aku cari, karena mungkin sudah kau sapu habis saat ramu aku.
Selasa, 21 Januari 2014
Dari Logika Kepada Hati
Dear Hati,
jika boleh aku sedikit berkisah tentangmu,
Malam itu kuhampiri kau,
mengapa kau begitu resah?
setiap kali aku lihat tumpukan kertas berisi daftar kesenangannya.
mengapa kau jadi begitu malu dan menjadi bersalah.
menyesali kesenangan yang kau sendiri lakukan.
aku berfikir keras, tidak mengerti.
oo..rupanya kata mu saat itu,
kau sedang menjadi hati yang angkuh,
yang terlupa akan tanggung jawab setelah kesenangan sesaat.
lantas kenapa kemudian kau malu dan resah?
ya tentu malu, karena kemudian aku menangkap basah seluruh kertas itu dan tidak
memarahimu, aku hanya berdehem dalam dalam dan berkata untuk tidak diulangi lagi.
tapi kau makin resah, karena tau setelah itu perbuatan mu menjadi beban untukku.
Rupanya,
katamu, hati belum mampu mendewasakan diri.
seringkali terlelap dalam kesenangan sesaat.
membabi buta dan pikiran pendek.
kau selalu begitu mudah lupa akan segala nasihat ku.
kata mu, kesombongan kadang terasa begitu nikmat.
meski kadang kau tau itu hanya akan memenjarakanku.
Hati, kau selalu datang padaku kemudian.
menangis tersedu dan meminta jalan keluar.
aku hanya menggeleng karena memang tidak tau harus berbuat apa-apa.
tapi tampaknya aku lelah.
karena beban ini terlalu berat aku pikul.
entah sampai kapan aku biarkan kau merajalela?
with love,
Logika
jika boleh aku sedikit berkisah tentangmu,
Malam itu kuhampiri kau,
mengapa kau begitu resah?
setiap kali aku lihat tumpukan kertas berisi daftar kesenangannya.
mengapa kau jadi begitu malu dan menjadi bersalah.
menyesali kesenangan yang kau sendiri lakukan.
aku berfikir keras, tidak mengerti.
oo..rupanya kata mu saat itu,
kau sedang menjadi hati yang angkuh,
yang terlupa akan tanggung jawab setelah kesenangan sesaat.
lantas kenapa kemudian kau malu dan resah?
ya tentu malu, karena kemudian aku menangkap basah seluruh kertas itu dan tidak
memarahimu, aku hanya berdehem dalam dalam dan berkata untuk tidak diulangi lagi.
tapi kau makin resah, karena tau setelah itu perbuatan mu menjadi beban untukku.
Rupanya,
katamu, hati belum mampu mendewasakan diri.
seringkali terlelap dalam kesenangan sesaat.
membabi buta dan pikiran pendek.
kau selalu begitu mudah lupa akan segala nasihat ku.
kata mu, kesombongan kadang terasa begitu nikmat.
meski kadang kau tau itu hanya akan memenjarakanku.
Hati, kau selalu datang padaku kemudian.
menangis tersedu dan meminta jalan keluar.
aku hanya menggeleng karena memang tidak tau harus berbuat apa-apa.
tapi tampaknya aku lelah.
karena beban ini terlalu berat aku pikul.
entah sampai kapan aku biarkan kau merajalela?
with love,
Logika
Label:
ruang sumpek penuh cerita
Langganan:
Postingan (Atom)
